Sengon, sang primadona untuk membibitkan uang

Sengon, sang primadona untuk membibitkan uang

Pohon sengon menjadi salah satu primadona perkayuan. Selain harga, masa panen Sengon relatif cepat dengan proses budidaya terbilang mudah. Saat ini, banyak penawaran kemitraan menanam sengon, mulai dari Rp 10,3 juta hingga puluhan juta. Pohon sengon menjadi kayu alternatif yang bisa menggantikan peran pohon jati dan jabon. Meski masa panen terbilang singkat, namun kualitas dan fungsi kayu sengon tidak perlu diragukan lagi. Kayu sengon bisa menjadi bahan baku untuk konstruksi ringan, kerajinan tangan, kayu lapis, korek api, kertas hingga alat musik.

Kayu sengon bisa dimanfaatkan setelah usia lima tahun. Ada beberapa keunggulan kayu sengon seperti tidak bengkok, tidak berbekas cabang, tidak mudah lapuk, tidak mudah busuk, dan juga tidak mudah pecah. Beragam keunggulan ini membuat harga kayu sengon sungguh aduhai. “Mengacu harga pabrik plywood, untuk satu kayu sengon ukuran 130 centimeter (cm) harganya mulai dari Rp 470.00 hingga Rp 720.000,” kata Dwi Wahyu, pemilik PT Sengon Salomon di Ngawi, Jawa Timur Jual Bibit Sengon Solomon.

Harga yang lebih tinggi berlaku untuk kayu sengon yang lebih panjang. Harga kayu untuk ukuran 210 cm antara Rp 770.000 hingga Rp 920.000. Padahal, harga bibit sengon cuma Rp 900 – Rp 1.200 per batang. Harga jual pohon sengon yang tinggi itu memunculkan keinginan petani sengon untuk mencari mitra. Salah satunya adalah PT Sengon Salomon, yang menawarkan investasi menanam pohon Sengon mulai dari Rp 10,3 juta untuk 200 pohon hingga investasi Rp 61,8 juta untuk 1.200 pohon. “Investasi termasuk biaya pemeliharaan dan sewa lahan selama lima tahun,” terang Dwi.

Setelah lima tahun, pohon sengon memasuki masa panen. Untuk investasi Rp 10,3 juta atau 200 batang sengon, investor bisa meraup hasil panen Rp 90 juta, dengan asumsi harga Rp 450.000 per batang. Laba bersih yang didapat investor adalah Rp 79,7 juta. Sedangkan untuk investasi 1.200 batang, bisa mendatangkan laba bagi investor sebesar Rp 540 juta. Karena menerapkan prinsip kemitraan, Dwi membagi hasil panen dengan pola 70 : 30, sebesar 70% untuk investor dan 30% untuk pengelola. Untuk penjualan kayu, Dwi telah bekerja sama dengan beberapa pabrik triplek dan kertas di Ngawi.

Tawaran investasi sengon juga datang dari PT Raja Sengon Indonesia yang memiliki lahan di Purwakarta, Jawa Barat. Raja Sengon menawarkan dua pola kemitraan. Pola pertama investasi Rp 90 juta untuk lima tahun, dengan rincian Rp 60 juta untuk pembelian tanah 1 hektare, Rp 40 juta lagi untuk biaya pemeliharaan sengon oleh Raja Sengon bersama dengan petani. Tiap satu hektare, bisa tertanam 3.300 pohon.

Investor tak perlu menunggu lima tahun untuk menikmati hasil investasi. Pada tahun ketiga, lahan sengon sudah bisa panen dengan nama panen penjarangan. Artinya, pohon panen saat batang sengon masih kecil. “Paling tidak, bisa memanen 20% dari jumlah pohon, sekitar 660 pohon,” tutur Guntoro, pemilik Raja Sengon.

Setahun kemudian, ada panen lagi dengan jumlah yang sama. Baru pada tahun kelima berlangsung panen terakhir. Adapun skema pembagian keuntungan kemitraan ini untuk investor, Raja Sengon, dan petani berturut-turut 60%, 28%, dan 12% . Guntoro menghitung, pada tahun kelima investasi saat panen terakhir, mitra bisa menikmati pendapatan minimal Rp 530 juta.

author
Author: 

    Leave a reply "Sengon, sang primadona untuk membibitkan uang"

    Must read×

    Top